Analisis Akustik Backscatter untuk Pemprofilan Dasar Laut Guna Penentuan Lokasi Duduk Kapal Selam (Studi Kasus di Perairan Laut Jawa Utara Segmen 8)

Backscatter Acoustic Analysis for Sea Base Profile For Determining The Sitting Location of The Subber (Case Study in North Java Sea Waters Segment 8)

Authors

  • Hendra Jayanto Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Prodi S1 Hidrografi
  • Henry M. Manik Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan
  • Anang P. Adi Pusat Hidro-oseanografi TNI Angkatan Laut, Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.37875/chartdatum.v7i2.217

Keywords:

multibeam echosounder, batimetri, hambur balik, tipe sedimen

Abstract

Multibeam Echosounder dapat merepresentasikan data, kontur dan posisi kedalaman sedangkan Backscatter Multibeam Echosounder dapat merepresentasikan jenis sedimen dasar perairan. Pelaksanaan Duduk Kapal Selam memerlukan ketersedian data Multibeam Echosounder dan Backscatter Multibeam Echosounder yang akurat dan sesuai kebutuhan sehingga perlu diadakan penelitian yang terkait dengan pelaksanaan operasi duduk kapal selam seperti kedalaman, gradien kemiringan dasar laut dan jenis sedimen dasar laut. Tujuan penelitian ini adalah membuat pemprofilan dasar laut dengan instrumen Multibeam Echosounder dan melaksanakan analisis akustik backscatter untuk mengetahui jenis sedimen dasar laut yang bertujuan untuk menentukan lokasi duduk kapal selam. Penelitian ini menggunakan data survei batimetri Multibeam Echosounder Kongsberg EM2040 di Perairan Laut Jawa Utara Segmen 8. Penentuan batimetri menggunakan metode Combined Uncertainty and Bathymetry Estimator (CUBE), sedangkan klasifikasi tipe sedimen menggunakan metode Angular Response Analysis (ARA) dan Sediment Analysis Tool (SAT) yang semuanya tertanam dalam perangkat lunak CARIS HIPS and SIPS versi 10.4. Hasil pengukuran kedalaman pada penelitian ini masuk klasifikasi survei hidrografi orde khusus yang memiliki tingkat akurasi tinggi. Klasifikasi tipe sedimen didapatkan sedimen lempung dan lempung pasiran. Berdasarkan nilai intensitas untuk tipe lempung (clay) -18,64 dB hingga -17,04 dB pada kedalaman 67,62 meter, lempung berpasir (sandy clay) -23,23 dB hingga -21,13 dB pada kedalaman 68,19 meter. Kecepatan arus maksimum 0,13 m/s atau 0,252 knots dan kecepatan arus minimum 0.00 m/s. Kecepatan arus rata-rata 0,12 m/s atau 0,233 knots dengan arah dominan Barat Laut dan Timur Laut.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adi, A. (2016). Analisis Sudut Pancaran (Angular Response Analysis) Hasil Deteksi Multibeam Echosounder di Sungai Kapuas Pontianak. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Intitut Pertanian Bogor.

Abimanyu, A. (2019). Studi Identifikasi Dasar Laut Untuk Pendeteksian Pipa Bawah Laut (Studi Kasus Pipa Pertamina Balikpapan) Jakarta: Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut.

Anderson, J. T., Holliday, D. V., Kloser, R., Reid, D. G., & Simrad, Y. (2008). Acoustic Seabed Classification: Current Practice and Future Directions. ICES J.Mar.Sci, 5, 1004-1011.

Badan Standarisasi Nasional. (2010). Survei Hidrografi Menggunakan Singlebeam Echosunder. In B. S. Nasional, 7646. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

Caris. (2015). Caris Training Module. (T. Beduhn, Performer) Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Caris. (2017). Reference Module. Caris.

Charnila, D., & Manik, H. M. (2010). Pemetaan dan Klasifikasi Sedimen dengan instrumen side scan sonar di Perairan Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Jurnal Teknologi Kelautan dan Perikanan, 105.

Comet Program. (2010). Introduction Hydrography. diakses1 Desember 1 2018. stream1.cmatc.cn

Dufek, T. (2012). Backscatter Analysis of Multibeam Sonar Data in the Area of theValvadia Fracture Zone using Geocoder in CARIS HIPS & SIPS and IVS3D Fledermus. Master Thesis. University Hamburg

Etter, P. C. (2015). Underwater Acoustic Modeling and Simulation. Boca Raton: CRC Press.

Flood, R.D, dan Ferrini, V.L. (2005). The Effect of Fine Scale Surface Rougnessand Grain Size on 300 Khz Multibeam Backscatter Intensity in SandyMarine Sedimentary Environment. Marine Geology Journal, 228, 153-172.

Fonseca, L. & Mayer, L. (2007). Remote Estimation of Surficial Seafloor PropertiesThrough The Application Angular Range Analysis to Multibeam Sonar Data. Mar Geophys Res, 28(2), 119-126.

Galway, R. S. (2000). Comparision of Target Detection Capabilities of the Reson Seabat 8101 and Reson Seabat 9001 Multibeam Sonars.

Hattab, A. I. (2014). Single beam bathymetric data modelling techniques for accurate maintenance dredging. The Egyptian Journal of Remote Sensing and Space Sciences.

Hasan, C., Ierodiaconou, D., Laurenson, L., & Schimel, A. (2014). Integrating Multibeam Backscatter Angular Response, Mosaic and Bathymetry Data for Benthic Habitat Mapping. Victoria, Australia. Plos one 9(5): e97339. doi:10.1371/journal.pone.0097339

Heide, D. V. (2017). Shallowest Point Determination With Water Coloum Imaging. Delft: Maritime Institute Willem Bartentsz.

Hutabarat, S., & Evans, S. M. (1985). Pengantar Oseanografi. Jakarta: UI Press.

Hypack. (2015). Haypack 2015 Help. haypack.

IHO. (2010). C-13 Manual On Hydrography. In I. H. Organization, Manual On Hydrography Chapter 4. Monaco: International Hydrographic Bureau.

Indramawan, B. S. (2017). Analisis Nilai Hambur Balik Pada Kapal Karam (Wreck) Menggunkan Data Multibeam Echosounder Di Perairan Belawan. Jakarta: Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut.

Instituto Nazionale di Geofisica e Vulcanologia. (2018). Element Of The Geomagnetic Field.. http://roma2.rm.ingv.it. Diakses 7September 2018

Blair, T. C., & McPherson, J. G. (1999). Grand Size and Textural Classification of coarse sedimentary particles. Journal of Sedimentary Research 69(1), 6-19. DOI:10.2110/jsr.69.6

Jong, C. D., Lachapelle, G., Skone, S., & Elema, I. A. (2003). Hydrography Second Edition. Delft: Delft University Press.

Kasiram. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif & Kualitatif. Malang: Universitas Islam Malang

Kongsberg. (2020). Echosounder sweep system. www.km.kongsberg.com.Diakses 3 September 2020

LebLanc, E., & Foster, B. (2015). New Algorithm for Multibeam Imagery Processing.http://digitalmagazines.marinelink.com/NWM/MarineTechnologyWhitePapers/201507/content/201507.pdf. Diakses 3 September 2018.

Lurton, X. (2010). An Introduction Underwater Acoustic Principle and Aplication. Springer.

Manik, H. M., Furusawa, M., & Amakasu, K. (2006). Measurement of sea bottom surface backscattering strength by quantitative echo sounder. Fisheries Science, 507.

Masetti, G., Sacile, R., & Trucco, A. (2011). Remote Characterization of seafloor adjacent to shipwrecks using mosaicking and analysis of backscatter response. European Journal of Remote Sensing 43(2), 77-92. DOI:10.5721/ItJRS20114326.

North Atlantic Treaty Organization. (2002). Minimum Charted Depth

North Atlantic Treaty Organization. (2010). Military Glossary Nevesbu Journal, Bottoming of a Submarine, Netherland, (2012)

NOAA. (2014). Field Procedures Manual. NOAA.

Plets, R., Dix, J., & Bates, R. (2013). Marine Geophysics Data Acquisition, Processing and Interpretation. Swidon: English Heritage.

Poerbandono. (2015). Hydroacoustics Survey for Study of Seabed. (Poerbandono, Performer) Bandung.

Poerbandono. (2015). Properties of seabed. Multibeam Echosunder Survey and Seabed Classification (p. 2). Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Poerbandono., & Djunarsjah, E. (2005). Survei Hidrografi. Bandung: Refika Aditama.

Pramudita, D. Y. (2015). Pemetaan Batimetri dan Penerapan Sudut Referensi terhadap Nilai Hambur Balik Menggunakan Multibeam Echosounder. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Pratomo, D. G. (2017). Multibeam Performance: Range and Angular Resolution. Jakarta.

Prayoga, A. (2016). Studi Karakteristik Hambur Balik Data Multibeam Echosounder Untuk Klasifikasi Dasar Perairan (Studi KAsus Marine Electronic Highway (MEH) di One Fathom Bank Selat Malaka Tahun 2015). Jakarta: Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut.

Pujiyati, S., Hartati, S., & Priyono, W. (2010). Efek Ukuran Butiran, Kekasaran, dan Kekerasan Dasar Perairan Terhadap Nilai Hambur Balik Hasil Deteksi Hydro Akustik. E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 2(1), 59-67.

RAN. (1999). Handout. In H. School, Handout. HMAS Pinguin.

Setyosari, Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan.Jakarta: Kencana

SHOM. (2014). OSV190 Project: theoretical training. (C. Vrignaud, Performer)

Siwabessy, P. J. W. (2005). Acoustic Techniques for Seabed Classification. TheCoastal Water Habitat Mapping (CWHM) Project of The CooperativeResearch Centre for Coastal Zone. Sydney. Australia.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Stanic, S., Briggs, K.B., Fleischer P., Sawyer, W. B, Ray, R. I. 1989. High Frequency Acoustic Backscattering froma Coarse Shell Ocean Bottom. Journal Acoust. Soc.Am., 85, 125-136.

Trismadi, H. (2017). Seabed Classification Based on Multibeam Echo Sounder Backscatter Data in the Area of Lombok Strait Indonesia. Hamburg: Hafencity Universitat.

Wentworth, C K. (1922). A Scale of Grade And Class Terms For Clastic Sediments. Journal of Geology, 30, 377–392.

Wright, D. J., Lundblad, E. R., Larkin, E. M., Rinehart, R. W., Murphy, J., Cary- Kothera, L., & Draganov, K. (2005). NOAA Coastal Services Center ArcGIS Benthic Terrain Modeler version 1.0.

Downloads

Published

2021-12-27

How to Cite

Jayanto, H., Manik, H. M., & Adi, A. P. (2021). Analisis Akustik Backscatter untuk Pemprofilan Dasar Laut Guna Penentuan Lokasi Duduk Kapal Selam (Studi Kasus di Perairan Laut Jawa Utara Segmen 8): Backscatter Acoustic Analysis for Sea Base Profile For Determining The Sitting Location of The Subber (Case Study in North Java Sea Waters Segment 8). Jurnal Chart Datum, 7(2), 143–162. https://doi.org/10.37875/chartdatum.v7i2.217